“Bolehkan aku pergi gereja sama temen?” tanya nya padaku pada sabtu sore.
“Temen cewe apa cowo?” tanyaku khawatir dengan adanya pihak ketiga di hubungan jarak jauh kami.
“Cowok,” balasnya singkat.
“Temen satu fakultas?”
“Bukan. Dulu dia pernah nembak aku dan sampai sekarang masih suka deketin aku.”

Aku tidak rela. Aku cemburu. Tapi apa yang bisa kulakukan. Kami dipisahkan oleh jarak ratusan kilometer.

Just say it if you don’t want me to be with him,” tandasnya.

Aku tidak ingin jadi pacar yang posesif. Aku ingin dia bisa berkawan juga. Mungkin saja teman pria nya ini hanya akan jadi teman. Mungkin…

“Terserah kamu,” balasku pendek seakan berharap dia menyadari rasa cemburuku.

Seminggu lamanya tidak ada cerita darinya tentang dia dan teman prianya itu. Kuberanikan diri bertanya.
“Iya jadi ke gereja bareng kok,” balasnya cuek tanpa memikirkan perasaanku, “Besok ada rencana ke mall sama dia.”

Selesai sudah. Orang ketiga sudah masuk diantara kami. Dia mencari sosok penggantiku yang lebih dekat dengannya.
“Oh….” balasku dengan hati hancur.

Advertisements