Katanya aku sudah berubah. Katanya aku sudah tidak sayang. Katanya cintaku sudah pudar. Katanya kami sudah tidak bersama.

“Jadi gimana hubungan kita?” tanya nya dengan suara pecah.
“Nggak tahu,” jawabku dengan hati kalut.
Kami terdiam. Gelapnya malam jadi saksi karamnya kapal cinta kami.
“Ya udahan aja deh kalo gitu,” aku menguatkan hati.
“Kamu yakin? Aku gamau balikan lagi kalo kita sudah putus. Aku bukan orang yang suka balikan lagi,” jawabnya cepat.

Aku terdiam. Aku mencintainya. Aku menginginkannya. Tapi cinta tak harus memiliki bukan? Cinta harus bisa merelakan dan melepaskan, jika cinta itu kembali padaku, maka dialah cinta sejatiku.

“Iya…” jawabku dengan berat hati.
Hatiku sakit.
“Begitu aku tutup telepon ini, hubungan kita selesai ya…” balasnya.
Aku kembali terdiam. Berharap waktu berhenti agar hubungan kami terhenti dalam keadaan statis, atau keadaan apapun selama aku tidak perlu berpisah darinya.
“E…?” panggilnya dari seberang telepon.
“Ya… Met bobo yah,” aku menutup telepon dan juga kenangan cinta pertamaku bersamanya.

Advertisements