“Am I not attractive enough for you?” tanyaku padanya melalui aplikasi pesan singkat di handphone.
“Ngga juga sih…” balasnya.
“Then why? Why you don’t want me in your life?”
“It’s because…you’re not entirely my cup of tea,” balasnya agak lama.

Aku tidak sesuai kriteria pria yang diinginkan olehnya. Lagi-lagi aku ditolak. Lagi-lagi aku hancur setelah aku terlanjur berharap.

“But you’re a nice guy,” balasnya cepat seakan tidak ingin menyakiti perasaanku.
Hah! Itu yang mereka semua katakan kepadaku saat tidak ingin bersama: aku adalah pria baik-baik. Jika memang aku pria baik-baik, kenapa kamu tidak mau bersamaku? Aku muak mendegar alasan ‘pria baik-baik’.

“Stop saying I’m a nice guy! I can be a bad guy too!” balasku dengan tangan dingin yang bergetar karena luapan emosi.
Tidak ada balasan darinya selama beberapa menit. Aku terdiam di ruang tamu dan menundukkan kepalaku. Hatiku hancur.
“Look, I’m with my friends right now, can we not talk right now?” balasnya setelah beberapa menit.

Ya, kita akan menyudahi pembicaraan ini dan seperti biasa, kamu tidak akan memulai percakapan denganku, harus selalu aku yang memulai.It’s all simply because I’m not your cup of tea.
“Ok. Sori ganggu. Have a good day,” balasku singkat dan melempar handphoneku ke sofa.

How can I change your opinion about me being a nice guy?
How can I be your guy?
How can I be your cup of tea?

Advertisements