“Is it too childish to delete someone’s BBM contact from my phone?” tanyaku pada Kevin, teman curhatku yang tinggal di Semarang.
“Yes it is dear!”
“You remember the guy who only want to have fun? I deleted him,” balasku kepada Kevin jujur.
“Well, he is an exception. Delete him from your BBM and from your life. He doesn’t deserve you,” balas Kevin melalui aplikasi pesan instan.

Pria yang mirip dengan cinta pertamaku ini hanya menginginkan fun, bukan hubungan yang serius. Tapi aku terus menggantungkan harapanku padanya dan berharap dia mau merubah pikirannya dan mencoba menjadi kekasihku. Segala upaya aku lakukan, mulai dari mengajak ngobrol melalui BBM, membahas film favorit, pekerjaan dan sebagainya. Tapi reaksinya selalu sama; dingin dan menjawab seadanya.

“Itu sih tandanya dia ga tertarik sama kamu, dear,” jelas Kevin kepadaku.
Aku tahu bahwa dia memang tidak tertarik kepadaku. Aku bukanlah secangkir teh yang dia inginkan.
I’m not entirely his cup of tea.
Aku hanya butuh mendengarkannya dari mulut orang lain.

“Well, okay. I’ll try my best to forget him,” balasku kepada Kevin, “But what about the smart and sweet guy?”
Aku benar-benar butuh saran dari Kevin. Kata-katanya yang cablak dan terang-terangan selalu ‘menampar’ aku dan membuatku tersadar.

“Tell me about this basic twat,” ceplos Kevin seenaknya.
“Hahaha, dasar biciss, ngomong seenaknya,” balasku sambil tersenyum tipis, “He said that there are some guys who approaching him right now. And I honestly can’t compare myself with Jakarta’s manwhores. Their makeup is numero uno. Unlike them, my face is always sprayed with factory truck’s exhaust fumes every morning, it’s my natural make up…”

Siapa sih aku jika dibandingkan para pria metroseksual di Jakarta ini. Aku hanyalah orang yang mengandalkan ide dan pemikiran, wajah dan penampilan selalu menjadi yang nomor dua bagiku. Smart is the new sexy, that’s why I always try to learn new things.

“I know you really like him, bitch,” balas Kevin, “But maybe you should let him go. It’s like he is making a competition and the winner will get him as the prize.”

Aku terdiam. Mungkin benar apa kata Kevin. Tapi pria ini memang menarik, dan menurutku, dia pantas dijadikan hadiah. Aku merenungi kata-kata Kevin.

“You are smart and kind, never doubt yourself :)” balas Kevin setelah aku terdiam tidak membalas pesan instan nya.

“Thanks Kev, I really appreciate it,” aku hampir menitikkan air mata. Dua pria dalam satu minggu. Bukan hal yang mudah. Mungkin semua karena semudah itu aku menaruh harapan pada orang lain.

“That is okay dear. This bitch won’t ever let anyone fooling himself. Just…be okay…’kay?” balas Kevin.

“I will, Kev… You’re a gift from God for me. Thank you!”

“Awww, stop that,” balas Kevin sambil mengirim beberapa sticker bergambar lucu.

Aku menghela napas panjang.

Well, I’m 22, I still have a long way to go. Maybe not these 2 guys, maybe my true love is waiting at somewhere I don’t know and I haven’t reach that road yet.

“So, let him go?” tanyaku sekali lagi pada Kevin.

“Let him go.”

Advertisements