“Okay, I’m free tonight. Let’s meet up at GI,” kata Kevin melalui pesan singkat kepadaku.
“Ok. Aku free juga malem ini,” balasku dari balik meja kerjaku, “Jam berapa dimana?”
“Jam 19.30-ish ya. Starbucks will do,” balas Kevin, “I’ll treat you.”
“Really!? Thanks Kev! See you tonight!”
“Sip..! Tapi jam 21.00 nanti aku ada janji sama orang lain,” balas Kevin.
“Really!?!? Jadi kita ketemuan cuma sebentar banget ini???”
“I’m really sorry, chabelita,” balas Kevin agak menyesal.
“Okeh gpp, daripada nanti ga bisa ketemu lagi,” balasku mantap.

Rabu, 19.00
Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke Grand Indonesia, dan tiba-tiba saja Jakarta diguyur hujan.

Sial! Pas banget mau ketemuan sama Kevin. Pasti macet banget nih. Geez!

“Kev, ujan…”
“Err… So??”
“Jalanan bakalan macet dan aku susah cari taksi.. Kemungkinan jam 8 lewat deh baru sampe GI,” balasku.
“You remember I have an appointment with someone else, right?”
“Aaaaaa I do remember!! Just wait for me yaaa!!!” jariku mengetik dengan cepat dan aku segera memasukkan dompet, payung lipat dan handphone ke dalam tas slempangku.

Dammit! Ini sih cuma mukjizat yang bisa mempertemukan aku sama Kevin. Jakarta cuaca normal saja sudah kacau, apalagi hujan seperti ini.

Aku terus meracau di dalam hati sambil keluar dari kosan untuk mencegat taksi. Kulirik jam tanganku, pukul 19.35.
“Butuh mukjizat untuk bisa mendapatkan taksi dalam keadaan macet dan hujan seperti ini!”

Seakan alam mendegar racauanku, sebuah taksi putih dengan nama dan logo yang tak kukenal lewat. Lampu tanda penumpangnya menyala.

Ahh!! Kosong!!

Aku segera melambaikan tanganku untuk menghentikan taksi. Taksi itu segera menepi dan aku segera masuk.

“Okay, ini mukjizat,” kataku dalam hati sambil mengeringkan baju dan lengan yang terkena hujan.

“Selamat malam, Bapak,” sapa supir taksi, “Kemana tujuannya, Pak?”
“Ke Grand Indonesia ya, Pak”

Pertolongan selalu datang tepat pada waktunya. Terima kasih Tuhan.

Advertisements