Rabu, 19.55
“I’m in a taxi. I’m on my way to GI,” aku mengirim pesan kepada Kevin.
“Good, I’ll find myself a cab now,” balas Kevin.

Jarak hotel tempat Kevin menginap dengan Grand Indonesia cukup dekat. Hanya lima menit katanya.

Aku terus melirik ke arah jam. Waktu terus berjalan. Semakin lama aku di taksi, semakin sedikit waktu yang bisa aku habiskan dengan Kevin.

“I’m stuck in a traffic now,” kataku pada Kevin melalui pesan instan.
“Is it bad?”
“Yes it is…. Wait for me. I’ll try my best to reach GI before 9pm,” balasku cepat.

Perasaanku sangat waswas. Teman curhat virtualku ada di Jakarta, dan sekarang aku terjepit di tengah hujan dan kemacetan kota Jakarta. Jarak dari kosku ke Grand Indonesia pun sebenarnya terhitung dekat, tidak sampai 10kilometer, tapi kemacetan ini yang menghambat waktu.

Rabu, 20.10
“I’m in! I’m in GI now,” kukirim pesan itu secepat kilat ke Kevin sambil setengah berlari dari pintu masuk di depan Seibu.
“I’m in Starbucks,” balas Kevin, “What do you want to order? Sweet or bitter?”
“Sweet…”

Aku hampir kehabisan napas saat berdiri di depan Starbucks. Aku mencari sosok Kevin yang hanya kukenali lewat display picture di aplikasi pesan instan. Tidak ada.

“Where are you?” pesan Kevin baru saja masuk ke handphoneku.
“Diluar starbucks. Kamu dimana?” tanyaku balik kepada Kevin.

Aku masih terus berusaha mencari Kevin. Di sudut kiri Starbucks aku melihat sekumpulan gay.

Semoga Kevin tidak duduk disana.

Aku memalingkan wajah ke arah lain. Aku melihat sosok yang familiar berdiri di samping meja order Starbucks.

Ah! Kevin!

Aku berjalan menjauhi kumpulan gay yang agak nyentrik itu dan mendekat ke arah Kevin.

“Haiiii!!! Finally we meet each other!” kataku sambil menjabat tangan Kevin.
“Hahaha iya, akhirnya yah,” balas Kevin sambil tersenyum, “Setelah satu tahun yah?”

Pukul 20.15 akhirnya aku bertemu dengan sahabat virtual yang setiap malam mendengar rengekan dan racauanku. Butuh keajaiban untuk menembus kemacetan dan kekacauan kota Jakarta.
Bermodal doa dan usaha, maka alam senantiasa akan membantu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahkan ketika hal itu terlihat sangat mustahil.

“Terima kasih Tuhan,” kataku dalam hati sambil meneguk kopi manis yang tidak kuketahui namanya yang dipesan oleh Kevin untukku.

Aku tersenyum penuh syukur menatap Kevin.

Advertisements